loader image
Skip to main content

ILKOM FISIP UNTAD

Sering kali kita membayangkan menjadi “Mahasiswa Terbaik” itu adalah seorang cerdas secara intelektual, jadwalnya penuh dengan kegiatan dan selalu mewakili kampus di berbagai perlombaan. Padahal, jadi mahasiswa terbaik bukanlah menjadi robot akademik yang sekedar mengejar IPK tinggi dan lulus cepat, melainkan bagaimana kita menemukan ritme, spark dan lingkungan yang membuat kita berkembang.

Saya Yahya Rizkiandra Suryatama, S.I.Kom., Lulusan terbaik tingkat Fakultas pada wisuda periode 137 dari Prodi Ilmu Komunikasi, ingin membagikan cerita saya menjalani proses perkuliahan di Universitas Tadulako. 

  1. Menentukan tujuan

Kuliah tanpa tujuan ibarat seorang traveller yang tidak punya destinasi. Kamu bisa saja berjalan, tapi mudah tersesat. Tujuan adalah kompas yang menuntun setiap langkah. Menentukan tujuan sejak awal akan membuat setiap langkah terasa lebih bermakna. Tujuan tidak harus besar seperti jadi dosen atau atau jadi peneliti setelah lulus kuliah, bisa sesederhana menguasai public speaking atau punya portofolio desain sebelum lulus. Dengan tujuan, kita punya pondasi kuat untuk bertahan menghadapi tantangan kuliah. Tujuan juga membantu kita memilih aktivitas yang relevan, sehingga energi tidak habis untuk hal-hal yang tidak mendukung perkembangan diri.

  1. Mencari spark di perkuliahan 

Sebagian besar dari kita pasti pernah merasakan yang namanya salah pilih jurusan, bahkan merasa seharusnya berada di kampus yang berbeda. Namun, menjalani apa yang sudah menjadi pilihan adalah sebuah keharusan. Cara agar menikmatinya adalah dengan menemukan spark atau percikan di dalam perkuliahan. Ibarat seseorang yang sedang membangun hubungan, carilah alasan yang membuatmu bertahan. Alasan tersebut bisa karena ada mata kuliah yang menarik, teman kelas yang asik atau mungkin dosen yang cara mengajarnya menyenangkan, itu bisa jadi apa saja. 

Dengan kedekatan emosional antara seorang mahasiswa dan kuliahnya, menjalani perkuliahan bisa terasa sangat menyenangkan. 

Ketika kita sudah menemukan spark perkuliahan, kuliah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai ruang ekspresi dan eksplorasi serta menemukan jati diri. Kamu akan lebih bersemangat hadir di kelas, lebih antusias mengerjakan tugas, dan lebih terbuka untuk mencoba hal-hal baru. 

  1. Manajemen waktu – Mengatur waktu ditengah kesibukan

Kuliah, organisasi, nongkrong, drama percintaan… semua menumpuk jadi satu dan kadang bingung untuk mengaturnya. Triknya? Bisa gunakan teknik sederhana: kalender HP, sticky notes, atau cara yang saya gunakan. Saya suka mengatur waktu saya dengan mulai menentukan mana hal yang penting dan mendesak. Kalau hal tersebut penting dan mendesak akan dikerjakan di awal, kalau dia penting namun tidak mendesak bisa dijadwalkan dan kalau hal tersebut tidak terlalu penting namun mendesak, bisa minta tolong ke orang lain untuk membantu kita. Ini bukan seberapa hebat kamu membelah diri dan multitasking, melainkan bagaimana mengarahkan energi ke hal hal yang memang menjadi prioritas.

  1. Memilih bergerak walau semuanya belum sempurna – Disiplin dan Konsisten sebagai kunci

Kalau menunggu sempurna, percayalah itu tidak akan membawa kemana mana. 

Saya sendiri pernah merasakan hal ini ketika pertama kali menginisiasi Palu Babaca, sebuah organisasi literasi yang berfokus menyediakan buku bacaan berkualitas bagi anak anak Kota Palu. Saat itu, berbekal tikar dan buku seadanya, saya bersama beberapa teman mengadakan lapak baca di Taman Nasional di Jl. Hasanuddin. Berbekal semangat dan buku milik pribadi, kami berhasil menarik minat pengunjung dan banyak mendapatkan dukungan dari situ. Ada satu anak yang sedang menjual air mineral disana dan disitulah hati saya semakin tergerak. Seorang anak yang harus membantu ekonomi keluarga di usia yang sangat belia, ternyata menjadi orang yang paling semangat untuk membaca. Dari situ saya belajar bahwa kesempurnaan bukan syarat untuk memulai. Justru dengan bergerak, saya menemukan cara untuk memperbaiki diri dan memberikan dampak bagi orang lain. 

Namun, saya memilih untuk tetap bergerak. Saya hadir, saya mencoba, dan saya konsisten menjalankan peran itu. Hasilnya? Anak-anak yang awalnya pasif mulai berani bercerita, bahkan ada yang menunjukkan kreativitas lewat gambar dan tulisan sederhana. Dari situ saya belajar bahwa kesempurnaan bukan syarat untuk memulai. Justru dengan bergerak, saya menemukan cara untuk memperbaiki diri dan menumbuhkan kepercayaan diri 

Pelajaran dari kisah ini jelas: kesempurnaan bukan syarat untuk memulai. Justru dengan bergerak, kita belajar, berkembang, dan hal tersebut akan menjadi sempurna itu sedikit demi sedikit. 

Bagi mahasiswa, disiplin hadir di kelas, konsisten mengerjakan tugas, dan berani mencoba hal baru jauh lebih penting daripada sekali tampil “wah” lalu hilang. 

  1. Berkomunikasilah! Ciptakan circle positifmu sendiri

Teman itu ibarat charger. Ada yang bikin penuh energi, ada yang bikin lowbat. Pilih circle yang bikin kamu berkembang, bukan yang bikin kamu stuck.

Ikut organisasi, kelompok belajar, atau bahkan bikin komunitas kecil sendiri. Circle positif akan jadi support system, tempat curhat, sekaligus ruang untuk tumbuh bersama. Lingkungan yang tepat bisa jadi faktor penentu kesuksesanmu di kampus.

Circle positif juga membantu menjaga semangat ketika motivasi pribadi mulai menurun. Dengan dukungan teman, kamu akan lebih mudah bangkit dan melanjutkan perjalanan